ESG Series

Scope 1, 2, dan 3 Emisi Karbon: Cara Menghitung Jejak Karbon Perusahaan untuk Pelaporan ESG

02 Oktober 2026 · oleh admin.esgsolusi

Panduan Lengkap Emisi Karbon Scope 1–3
GHG Protocol membagi emisi gas rumah kaca perusahaan menjadi tiga cakupan: Scope 1 (emisi langsung dari sumber milik/dikendalikan perusahaan), Scope 2 (emisi tidak langsung dari energi yang dibeli), dan Scope 3 (emisi dari seluruh rantai nilai). Pemahaman dan penghitungan yang akurat terhadap ketiganya menjadi wajib seiring IFRS S2 mensyaratkan pengungkapan emisi Scope 1, 2, dan 3 dalam pelaporan keberlanjutan.

Kenapa Membedakan Scope 1, 2, dan 3 Itu Penting, Bukan Sekadar Istilah Teknis

GHG Protocol Corporate Standard adalah metodologi paling banyak dipakai secara global untuk mengukur emisi gas rumah kaca perusahaan, dan menjadi basis pengukuran emisi di GRI 305 maupun IFRS S2. Standar ini membagi emisi ke dalam tiga cakupan (scope) berdasarkan sumber dan tingkat kendali perusahaan terhadapnya.

Memahami perbedaan ketiganya penting karena kompleksitas dan tanggung jawab pengukurannya sangat berbeda: Scope 1 dan 2 relatif mudah diukur karena datanya ada di dalam kendali perusahaan, sementara Scope 3 jauh lebih kompleks karena mencakup emisi dari pemasok, distributor, hingga penggunaan produk oleh konsumen.

Definisi Scope 1, 2, dan 3

CakupanDefinisiContoh Sumber Emisi
Scope 1Emisi langsung dari sumber yang dimiliki atau dikendalikan perusahaanPembakaran bahan bakar di kendaraan/mesin perusahaan, proses produksi, kebocoran refrigeran
Scope 2Emisi tidak langsung dari energi (listrik, panas, uap) yang dibeli perusahaanKonsumsi listrik dari PLN atau penyedia energi lain untuk operasional gedung/pabrik
Scope 3Emisi tidak langsung dari seluruh rantai nilai di luar Scope 1 dan 2Bahan baku dari pemasok, perjalanan dinas karyawan, distribusi produk, penggunaan produk oleh konsumen, pengolahan limbah

Scope 3 dibagi lagi menjadi 15 kategori oleh GHG Protocol Corporate Value Chain (Scope 3) Standard, terbagi ke upstream (sebelum produk sampai ke perusahaan, misalnya bahan baku) dan downstream (setelah produk meninggalkan perusahaan, misalnya distribusi dan penggunaan produk).

Cara Menghitung Emisi: Prinsip Dasar

Rumus dasar penghitungan emisi pada dasarnya sederhana: Data Aktivitas x Faktor Emisi = Emisi GHG. Yang membuatnya kompleks adalah mengumpulkan data aktivitas yang akurat dan memilih faktor emisi yang tepat.

  • Data aktivitas misalnya liter bahan bakar yang dikonsumsi, kWh listrik yang dipakai, atau ton bahan baku yang dibeli.
  • Faktor emisi angka konversi dari satuan aktivitas ke satuan CO2 ekuivalen, bersumber dari basis data resmi seperti faktor emisi grid listrik nasional dari Kementerian ESDM/KLHK, atau basis data internasional seperti IPCC.
  • Scope 2: location-based vs market-based location-based menghitung emisi berdasarkan rata-rata intensitas emisi grid listrik di lokasi operasi; market-based menghitung berdasarkan kontrak energi spesifik yang dibeli perusahaan (misalnya jika membeli listrik dari pembangkit energi terbarukan tersertifikasi). GRI 305 mewajibkan pelaporan keduanya jika data tersedia.
  • Scope 3: umumnya menggunakan data estimasi karena data primer dari pemasok sering tidak tersedia, banyak perusahaan memulai dengan data sekunder/rata-rata industri, lalu menyempurnakannya secara bertahap seiring peningkatan kualitas data pemasok.

Kaitan dengan Kewajiban Pelaporan ESG

IFRS S2 (dan adaptasinya di Indonesia, PSPK 2) mewajibkan pengungkapan emisi Scope 1, 2, dan 3 sebagai bagian dari pengungkapan risiko iklim, efektif per 1 Januari 2027 (lihat pembahasan lengkapnya di sini). Perusahaan yang sudah melapor emisi dengan GRI 305 umumnya berada di posisi baik untuk memenuhi persyaratan ini, karena metodologi keduanya sangat selaras terutama untuk Scope 1 dan 2.

Langkah praktis memulai: inventarisasi sumber emisi Scope 1 dan 2 terlebih dahulu (paling mudah diukur dan dikendalikan), baru kemudian memetakan kategori Scope 3 yang paling material bagi bisnis — tidak semua 15 kategori Scope 3 relevan bagi setiap perusahaan.

Data Emisi yang Akurat adalah Dasar Semua Klaim dan Target Iklim Perusahaan

ESG Solusi membantu perusahaan membangun sistem penghitungan emisi Scope 1, 2, dan 3 yang sesuai GHG Protocol dan siap untuk pelaporan IFRS S2/PSPK 2, melalui layanan ESG strategy mapping dan sustainability assessment, dilengkapi program ESG Fundamental bagi tim yang baru memulai.

FAQ Seputar Scope 1, 2, dan 3 Emisi Karbon

Scope mana yang paling penting untuk dihitung lebih dulu?

Scope 1 dan 2 sebaiknya dihitung lebih dulu karena datanya paling mudah diakses dan dikendalikan langsung oleh perusahaan, sebelum melangkah ke kompleksitas Scope 3.

Apakah semua perusahaan wajib menghitung Scope 3?

Belum seluruhnya wajib secara hukum saat ini, namun IFRS S2 mendorong pengungkapan Scope 3 dan semakin banyak investor serta mitra bisnis yang mensyaratkannya, sehingga sebaiknya perusahaan mulai mempersiapkannya secara bertahap.

Apa beda location-based dan market-based untuk Scope 2?

Location-based menghitung emisi berdasarkan rata-rata intensitas emisi grid listrik di wilayah operasi, sementara market-based menghitung berdasarkan sumber energi spesifik yang dibeli perusahaan lewat kontrak atau sertifikat energi terbarukan.

Dari mana perusahaan mendapatkan faktor emisi yang akurat untuk konteks Indonesia?

Faktor emisi grid listrik nasional dan faktor emisi sektoral lain umumnya diterbitkan oleh Kementerian ESDM dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebaiknya gunakan angka resmi terbaru dari kedua lembaga tersebut.

Apakah menghitung Scope 3 membutuhkan software khusus?

Tidak selalu wajib di tahap awal spreadsheet dengan metodologi yang konsisten bisa cukup untuk perusahaan tahap awal. Software karbon khusus umumnya baru diperlukan saat kompleksitas data dan kebutuhan verifikasi meningkat.

Mengukur Sebelum Mengklaim: Fondasi Semua Target Net Zero

Tanpa penghitungan Scope 1, 2, dan 3 yang akurat, target pengurangan emisi atau klaim net zero perusahaan tidak punya dasar yang bisa diverifikasi dan berisiko dianggap greenwashing. Membangun sistem penghitungan emisi yang tepat sejak awal adalah investasi jangka panjang bagi kredibilitas pelaporan ESG perusahaan.

Jika perusahaan Anda ingin membangun sistem penghitungan jejak karbon yang akurat dan siap pelaporan, tim ESG Solusi siap membantu. Konsultasikan kebutuhan Anda melalui WhatsApp atau pelajari program ESG Fundamental ESG Solusi.

← Kembali ke Blog Konsultasi via WhatsApp
Chat via WhatsApp