| Banyak laporan keberlanjutan gagal memberikan nilai maksimal bukan karena kurang data, tapi karena kesalahan mendasar dalam proses penyusunannya mulai dari tidak melakukan materiality assessment, klaim tanpa bukti, hingga laporan yang tidak terhubung dengan strategi bisnis. Artikel ini memetakan kesalahan paling umum dan cara menghindarinya. |
Laporan Tebal Belum Tentu Laporan yang Baik
Ketika kewajiban pelaporan keberlanjutan makin meluas, banyak perusahaan terjebak mengejar kelengkapan halaman dan indikator, tanpa memperhatikan kualitas proses di baliknya. Hasilnya adalah laporan yang tebal namun tidak fokus, sulit dibaca, dan berisiko dianggap greenwashing meski tidak ada niat menyesatkan.
Memahami kesalahan paling umum dalam penyusunan sustainability report membantu perusahaan menghindari jebakan yang sama, dan menyusun laporan yang benar-benar bermanfaat bagi pengambilan keputusan investor maupun pemangku kepentingan lain.
Kesalahan pada Tahap Perencanaan
- Tidak melakukan materiality assessment menyusun laporan langsung dari template standar tanpa menentukan isu ESG yang paling relevan bagi bisnis, sehingga laporan menjadi generik. Pelajari cara melakukannya dengan benar.
- Tidak melibatkan pemimpin bisnis sejak awal laporan disusun sepenuhnya oleh tim sustainability tanpa keterlibatan direksi, sehingga kontennya tidak selaras dengan strategi dan prioritas bisnis yang sebenarnya.
- Tidak menetapkan target dan KPI yang jelas laporan hanya menceritakan aktivitas yang sudah dilakukan tanpa target terukur untuk periode mendatang, sehingga sulit menilai kemajuan dari tahun ke tahun.
Kesalahan pada Isi dan Data
- Klaim tanpa data pendukung menggunakan istilah seperti “ramah lingkungan” atau “berkelanjutan” tanpa angka, metodologi, atau sumber yang bisa diverifikasi — berisiko dianggap greenwashing. Lihat pembahasan lengkapnya di sini.
- Metodologi perhitungan yang tidak konsisten antar tahun tanpa penjelasan, membuat data sulit dibandingkan dan menimbulkan kecurigaan terhadap keandalan angka.
- Data tidak traceable angka yang dilaporkan tidak bisa ditelusuri balik ke sumber asal, sehingga sulit dipertanggungjawabkan saat ditinjau investor atau diverifikasi auditor independen.
- Mengabaikan Scope 3 atau kategori emisi lain yang material hanya melaporkan emisi Scope 1 dan 2 yang mudah diukur, padahal Scope 3 mungkin menjadi porsi terbesar jejak karbon perusahaan.
Kesalahan pada Format dan Komunikasi
- Struktur tidak mengikuti standar yang dikenal (GRI, IFRS S1/S2) sehingga pembaca kesulitan menemukan informasi yang dicari dan membandingkan dengan laporan perusahaan lain.
- Bahasa yang terlalu teknis atau justru terlalu promosional, kehilangan keseimbangan antara akurasi dan keterbacaan bagi pembaca non-teknis.
- Tidak menyertakan FAQ atau ringkasan eksekutif yang memudahkan pembaca dengan waktu terbatas memahami inti laporan.
- Melewatkan tenggat waktu pelaporan yang ditentukan regulator, yang bisa berdampak pada kepatuhan formal perusahaan terhadap POJK 51.
Laporan yang Baik Dimulai dari Proses yang Benar, Bukan Template yang Lengkap
ESG Solusi membantu perusahaan menyusun sustainability report yang solid dari proses hulu (materiality assessment, pengumpulan data) hingga hilir (struktur, narasi, kesiapan verifikasi), melalui layanan ESG strategy mapping dan sustainability assessment, dilengkapi program in-house training bagi tim penyusun laporan.
FAQ Seputar Kesalahan Umum Sustainability Report
Apa kesalahan paling fatal dalam penyusunan sustainability report?
Tidak melakukan materiality assessment di awal adalah kesalahan paling mendasar, karena seluruh isi laporan berikutnya berisiko tidak fokus dan tidak relevan bagi bisnis maupun pemangku kepentingan.
Apakah laporan yang tebal berarti laporan yang baik?
Tidak selalu. Laporan yang baik lebih ditentukan oleh relevansi isu yang dibahas, keandalan data, dan keterhubungannya dengan strategi bisnis bukan sekadar jumlah halaman atau indikator yang dicantumkan.
Bagaimana cara menghindari kesan greenwashing dalam laporan?
Pastikan setiap klaim ESG didukung data spesifik yang bisa diverifikasi, hindari istilah kabur tanpa angka pendukung, dan tampilkan konteks yang seimbang termasuk tantangan yang belum sepenuhnya teratasi.
Apakah perusahaan perlu konsultan eksternal untuk menghindari kesalahan ini?
Tidak selalu wajib, namun pendampingan eksternal bisa membantu terutama pada tahap materiality assessment dan penyusunan struktur laporan yang sesuai standar, terutama bagi perusahaan yang baru pertama kali menyusun laporan formal.
Apa dampak jika laporan keberlanjutan terlambat disampaikan?
Selain berisiko terhadap kepatuhan formal POJK 51, keterlambatan juga bisa memengaruhi persepsi investor dan lembaga pemeringkat ESG terhadap kedisiplinan tata kelola perusahaan.
Perbaiki Prosesnya, Bukan Hanya Tampilannya
Sebagian besar kesalahan dalam sustainability report berakar dari proses penyusunan yang terburu-buru atau tidak terstruktur, bukan dari kurangnya data. Memperbaiki proses sejak tahap materiality assessment hingga verifikasi data akan menghasilkan laporan yang jauh lebih kredibel dibanding sekadar memperbaiki tampilan atau menambah halaman.
Jika perusahaan Anda ingin menyusun sustainability report yang solid dan bebas dari kesalahan umum, tim ESG Solusi siap membantu. Konsultasikan kebutuhan Anda melalui WhatsApp atau jadwalkan in-house training ESG Solusi.



