Ringkasan: Emisi Scope 3 mencakup emisi tidak langsung dalam rantai nilai perusahaan di luar Scope 2. Kolaborasi pemasok membantu memperbaiki kualitas data dan menjalankan pengurangan emisi pada aktivitas yang relevan.
Banyak perusahaan terkejut saat pertama kali menghitung emisinya secara lengkap. Ternyata, bagian terbesar emisi sering tidak berasal dari pabrik atau kantor mereka sendiri, melainkan dari rantai pasok: dari pemasok bahan baku hingga penggunaan produk oleh pelanggan. Inilah yang disebut emisi Scope 3, dan ia adalah bagian tersulit sekaligus terpenting.
Mengelola Scope 3 terasa menakutkan karena sebagian besar berada di luar kendali langsung perusahaan. Tapi jangan khawatir. Artikel ini membahas strategi praktis mengelola emisi Scope 3, dengan fokus pada cara melibatkan pemasok, yang menjadi kunci keberhasilannya.
Apa Itu Emisi Scope 3?
Emisi Scope 3 adalah emisi tidak langsung yang terjadi di sepanjang rantai nilai perusahaan, di luar Scope 1 (emisi langsung) dan Scope 2 (energi yang dibeli). Cakupannya luas, mulai dari emisi pemasok, transportasi, perjalanan bisnis, hingga penggunaan dan pembuangan produk. Untuk memahami dasar perhitungan ketiga scope, acuan global yang umum dipakai adalah GHG Protocol.
Mengapa Scope 3 Begitu Penting?
- Porsi terbesar: di banyak industri, Scope 3 mencakup sebagian besar total emisi.
- Tuntutan pelaporan: investor dan regulasi semakin menuntut pengungkapan Scope 3.
- Kebijakan karbon lintas batas: kebijakan seperti CBAM menyoroti emisi yang melekat pada produk.
- Peluang efisiensi: mengelola rantai pasok sering membuka penghematan biaya.
Mengapa Scope 3 Paling Sulit Dikelola
Tidak seperti emisi dari operasi sendiri yang datanya tersedia, emisi Scope 3 tersebar di banyak pihak yang tidak dikendalikan perusahaan. Pemasok mungkin belum menghitung emisinya, datanya tidak seragam, dan jumlah pihak yang terlibat sangat banyak. Tantangan ini nyata, tetapi bukan berarti mustahil. Kuncinya adalah pendekatan bertahap dan kolaborasi, bukan mencoba menyempurnakan semuanya sekaligus.
Strategi Engagement Supplier
Karena sebagian besar Scope 3 berada di rantai pasok, keberhasilan mengelolanya sangat bergantung pada hubungan dengan pemasok. Berikut strategi yang efektif.
- Petakan pemasok utama. Fokus pada pemasok yang menyumbang emisi terbesar lebih dulu.
- Komunikasikan harapan. Jelaskan mengapa data emisi penting dan apa yang Anda butuhkan.
- Bantu pemasok memulai. Banyak pemasok butuh dukungan untuk menghitung emisinya.
- Susun kode etik pemasok. Tetapkan standar keberlanjutan yang jelas dalam kerja sama.
- Bangun kolaborasi jangka panjang. Jadikan penurunan emisi tujuan bersama, bukan tuntutan sepihak.
Menyusun Supplier Code of Conduct
Salah satu alat paling efektif adalah kode etik pemasok, atau supplier code of conduct. Dokumen ini menetapkan ekspektasi perusahaan terhadap praktik keberlanjutan pemasok, termasuk pengelolaan emisi, kondisi kerja, dan kepatuhan lingkungan. Dengan kode etik yang jelas, perusahaan memberi arah bagi pemasok sekaligus menyaring mitra yang sejalan dengan nilai keberlanjutannya. Kode etik yang baik bukan sekadar daftar aturan, melainkan undangan untuk tumbuh bersama menuju rantai pasok yang lebih bertanggung jawab.
Membangun Kapabilitas Mengelola Scope 3
Mengelola emisi Scope 3 dan risiko rantai pasok membutuhkan pemahaman carbon accounting sekaligus keterampilan membangun hubungan dengan pemasok. Banyak perusahaan merasa terbantu dengan pendampingan untuk menyusun strategi engagement dan sistem data yang tepat. ESG Solusi mendukung perusahaan melalui layanan konsultasi ESG dan memperkuat kompetensi tim lewat program ESG Fundamental.
Apakah perusahaan harus menunggu data sempurna? Tidak. Perusahaan dapat memulai dari data yang tersedia, memberi label kualitas data, dan memperbaikinya secara bertahap. Yang paling penting adalah metode pengukuran tetap konsisten sehingga kemajuan dapat terlihat.
Memulai dari Kategori yang Paling Material
Menghadapi Scope 3 yang luas, kesalahan umum adalah mencoba menghitung semuanya sekaligus lalu kewalahan. Pendekatan yang jauh lebih efektif adalah memulai dari kategori yang paling material bagi bisnis Anda.
- Identifikasi penyumbang terbesar: fokus pada kategori Scope 3 yang emisinya paling signifikan.
- Gunakan estimasi awal: mulai dengan data rata-rata industri sebelum data aktual tersedia.
- Perluas bertahap: tambah cakupan kategori seiring kematangan data.
- Prioritaskan yang bisa dipengaruhi: fokus pada area di mana perusahaan dapat mendorong perubahan.
Dengan memulai dari yang paling penting dan bisa dikelola, perusahaan menghindari kemacetan dan tetap membuat kemajuan nyata. Kesempurnaan bukan tujuan di awal, melainkan konsistensi dan perbaikan bertahap yang berkelanjutan.
Hal yang Sering Ditanyakan tentang Emisi Scope 3
Apa peran teknologi dalam mengelola data Scope 3?
Teknologi sangat membantu karena data Scope 3 tersebar di banyak pihak dan sulit dikumpulkan secara manual. Platform pengelolaan data dan alat carbon accounting memudahkan pengumpulan, estimasi, dan pemantauan emisi dari pemasok. Namun, teknologi tetap perlu didukung strategi engagement supplier yang baik, karena kualitas data pada akhirnya bergantung pada kesediaan dan kemampuan pemasok untuk berbagi informasi.
Mengapa Scope 3 biasanya paling besar?
Karena Scope 3 mencakup seluruh emisi di rantai nilai, mulai dari produksi bahan baku oleh pemasok hingga penggunaan produk oleh konsumen. Di banyak industri, aktivitas di luar operasi langsung perusahaan inilah yang menghasilkan sebagian besar emisi, sehingga Scope 3 sering jauh melampaui Scope 1 dan 2 digabungkan.
Bagaimana jika pemasok belum menghitung emisinya?
Ini situasi yang sangat umum. Perusahaan dapat memulai dengan estimasi berbasis data rata-rata industri, lalu secara bertahap mendorong dan membantu pemasok utama menghitung emisi aktualnya. Pendekatan kolaboratif, bukan tuntutan sepihak, biasanya lebih berhasil karena pemasok merasa didukung, bukan dibebani.
Apakah semua emisi Scope 3 harus dihitung sekaligus?
Tidak perlu. Pendekatan yang realistis adalah memulai dari kategori Scope 3 yang paling material bagi bisnis Anda, misalnya emisi dari bahan baku utama. Seiring waktu, cakupan dapat diperluas. Memaksakan perhitungan menyeluruh sejak awal justru sering membuat prosesnya macet.
Apa manfaat mengelola Scope 3 selain pelaporan?
Selain memenuhi tuntutan pelaporan, mengelola Scope 3 sering membuka peluang efisiensi dan penghematan biaya di rantai pasok, memperkuat hubungan dengan pemasok, dan menyiapkan perusahaan menghadapi kebijakan karbon lintas batas. Ini menjadikannya investasi strategis, bukan sekadar kewajiban administratif.
Kelola Rantai Pasok, Perkuat Keberlanjutan
Emisi Scope 3 memang menantang, tetapi di baliknya tersimpan peluang besar untuk efisiensi dan kolaborasi. Dengan strategi engagement supplier yang tepat dan pendekatan bertahap, perusahaan Anda dapat mengelola bagian emisi terbesar ini sekaligus membangun rantai pasok yang lebih tangguh dan bertanggung jawab.
Ingin menyusun strategi pengelolaan emisi Scope 3 dan engagement supplier? Konsultasikan dengan tim ESG Solusi, atau bangun fondasi tim lewat ESG Fundamental.
Jika Anda ingin mempercepat penerapan dan membangun kompetensi internal, lihat program manajemen risiko ESG. Tim ESG Solusi dapat membantu memetakan kebutuhan, menyusun prioritas, dan menyiapkan pelatihan yang sesuai dengan konteks organisasi Anda.



